Kamis, 16 Desember 2010


Prakata


Sejenak pengunggah ingin menyamakan pendapat mengenai arti kalimat Lambang Kebesaran dari sumber kata, yang diperoleh dari kata simbol, kemudian Logo dst. dalam tata bahasa memiliki arti adalah sebegai berikut :
   Simbol berasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya ”melempar bersama-sama”, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. Simbol dapat menghantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu.
      Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Simbol dapat digunakan untuk keperluan apa saja. Semisal ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, juga keagamaan. Bentuk simbol tak hanya berupa benda kasat mata, namun juga melalui gerakan dan ucapan. Simbol juga dijadikan sebagai salah satu infrastruktur bahasa, yang dikenal dengan bahasa simbol.
   Simbol paling umum ialah tulisan, yang merupakan simbol kata-kata dan suara. Lambang bisa merupakan benda sesungguhnya, seperti bintang (lambang Keagungan) dan tongkat (yang melambangkan kekayaan dan kekuasaan). Lambang dapat berupa warna atau pola. Lambang sering digunakan dalam puisi dan jenis sastra lain, kebanyakan digunakan sebagai metafora atau perumpamaan. Lambang nasional adalah simbol untuk negara tertentu.
  Logo adalah suatu bentuk huruf atau lambang yg mengandung makna, terdiri atas satu kata atau lebih sbg lambang atau nama suatu himpunan, usaha dlsb,
  Ermblem mempunyai arti kata rancangan atau lukisan yg mengandung makna tertentu; lambang; simbol; (nomina), atau juga berarti Tanda pengenal (berupa pita silang, lukisan pd kain, logam, dsb) yg dipakai orang di dada untuk menunjukkan keanggotaan suatu perkumpulan, kesatuan, angkatan, kontingen, dsb; lencana (nomina)


Building the "Big Tree"
date 15 December 2010
Geni to dear Haji Raden Widodo


Geni’s mission is to create a shared family tree that connects all of our users. We wanted to share a little bit more about what this vision means and how we are going to get there.
For centuries, people have studied their family history in order to document their ancestors and find new relatives. However, there has never been a great way to share the results of this research with relatives, or collaborate together with others researching common relatives. As a result, the same ancestors are researched over and over again, often from scratch. By combining this research into a single tree that everyone can work on together, users can focus on verifying information and on new avenues of research, rather than spend their time duplicating research that somebody else has already done.
Because users start with their own tree when they first join Geni, they often add relatives that are already part of other Geni trees. All of these duplicates must be merged together to create the one shared tree that we are working towards. Over 45 million profiles have already been linked together on Geni into what is known as the "Big Tree".
In order to help accomplish this goal, Geni Curators can now merge together duplicate public profiles that are in different trees. Public profiles are distant relatives and ancestors (your third great grandparents and beyond) that may be shared by many other users. As public profiles you’re connected to are merged with their duplicates, you’ll instantly benefit from other users’ research, and maybe even meet some new distant cousins.
As always, we take the privacy of your close relatives very seriously. Profiles for close relatives that you’ve added to Geni are private, which means that only you and your family can view these profiles. Only your close relatives can merge your private profiles, and even if your tree is merged with another tree, your close relatives will remain private to you and your family.
A few more things:
You can always export your tree as a GEDCOM file if you’d like to keep a local copy
For more on profile privacy, see our Understanding Privacy on Geni page
If you have any other questions or concerns about this, please let us know at
help@geni.com
- Tim Geni

Translate Bhs Indonesia



date 15 December 2010

Geni ke saya
Yth. Haji Raden Widodo,
Misi Geni adalah untuk membuat pohon keluarga berbagi yang menghubungkan seluruh pengguna kami. Kami ingin berbagi sedikit lebih lanjut tentang apa visi ini berarti dan bagaimana kita akan ke sana.Selama berabad-abad, orang telah mempelajari sejarah keluarga mereka dalam rangka untuk mendokumentasikan nenek moyang mereka dan menemukan keluarga baru. Namun, tidak pernah ada cara yang bagus untuk berbagi hasil penelitian ini dengan keluarga, atau berkolaborasi bersama-sama dengan orang lain meneliti kerabat umum. Akibatnya, nenek moyang yang sama diteliti lagi dan lagi, sering dari awal. Dengan menggabungkan penelitian ini menjadi sebuah pohon tunggal yang setiap orang dapat bekerja bersama-sama, pengguna dapat fokus pada verifikasi informasi dan jalan baru penelitian, daripada menghabiskan waktu mereka duplikasi penelitian yang orang lain telah dilakukan.Karena pengguna mulai dengan pohon mereka sendiri ketika mereka pertama kali bergabung Geni, mereka sering menambahkan kerabat yang sudah bagian dari pohon Geni lainnya. Semua duplikat harus digabung bersama-sama untuk menciptakan satu pohon bersama bahwa kita bekerja untuk. Lebih dari 45 juta profil sudah dihubungkan bersama di Geni ke dalam apa yang dikenal sebagai "Big Tree".Untuk membantu mencapai tujuan ini, Geni Kurator sekarang dapat bergabung bersama duplikat profil publik yang ada di pohon yang berbeda. profil publik kerabat jauh dan nenek moyang (kakek ketiga Anda besar dan luar) yang dapat digunakan bersama oleh banyak pengguna lain. Seperti profil publik Anda terhubung ke digabungkan dengan mereka duplikat, Anda segera akan mendapatkan keuntungan dari penelitian user lain, dan bahkan mungkin bertemu dengan beberapa sepupu jauh baru.Seperti biasa, kita mengambil privasi kerabat dekat Anda dengan sangat serius. Profil untuk kerabat dekat bahwa Anda telah ditambahkan ke Geni adalah swasta, yang berarti bahwa hanya Anda dan keluarga Anda dapat melihat profil ini. Hanya kerabat dekat Anda dapat menggabungkan profil pribadi Anda, dan bahkan jika pohon Anda bergabung dengan pohon lain, keluarga dekat Anda akan tetap swasta untuk Anda dan keluarga Anda.Yang lebih beberapa hal:Anda selalu dapat mengekspor pohon Anda sebagai berkas GEDCOM jika Anda ingin menyimpan salinan setempatUntuk lebih lanjut tentang privasi profil, lihat kami Memahami Privasi pada halaman GeniJika Anda memiliki pertanyaan atau masalah lain tentang hal ini, silakan beritahu kami di help@geni.com- Geni Tim
Kami telah mengirimkan pemberitahuan ini untuk memfasilitasi penggunaan silsilah keluarga Anda di Geni. If you no longer wish to receive emails of this type from Geni, you can unsubscribe here.
If you no longer wish to receive any emails from Geni, you can unsubscribe from all emails.
Geni, Inc.
8491 W. Sunset Blvd., #106
West Hollywood, CA 90069-1911 USA
©2010 Geni, Inc. Hak Cipta Dilindungi
DEMIKIAN CATATAN SAYA SEBAGAI PENULIS DAN PENGUNGGAH SILSILAH KELUARGA

  • LAMBANG KERAJAAN MAJAPAHIT
Surya Majapahit (Matahari Majapahit) adalah lambang yang kerap ditemukan di reruntuhan bangunan yang berasal dari masa Majapahit. Lambang ini mengambil bentuk Matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengah menampilkan dewa-dewa Hindu. lambang ini membentuk diagram kosmologi yang disinari jurai Matahari khas "Surya Majapahit"[1], atau lingkaran Matahari dengan bentuk jurai sinar yang khas. Karena begitu populernya lambang Matahari ini pada masa Majapahit, para ahli arkeologi menduga bahwa lambang ini berfungsi sebagai lambang negara Majapahit.
Lambang ini digambar dalam berbagai variasi bentuk, seperti lingkaran dewa-dewa dan sinar Matahari, atau bentuk sederhana Matahari bersudut delapan, seperti lambang Surya majapahit yang ditemukan di langit-langit Candi Penataran[2]. Dewa-dewa ini diatur dalam bentuk seperti mandala. Variasi lain dari Surya Majapahit berupa Matahari bersudut delapan dengan gambar dewa Surya di tengah lingkaran tengah mengendarai kuda atau kereta perang.

Ukiran Surya Majapahit biasanya dapat ditemukan di tengah langit-langit Garbhagriha (ruangan tersuci) dari beberapa candi seperti Candi Bangkal, Sawentar, dan Candi Jawi. Ukiran Surya Majapahit juga kerap ditemukan pada stella, ukiran Halo atau Aura, pada bagian belakang kepala arca yang dibuat pada masa Majapahit. Ukiran ini juga ditemukan di batu nisan yang berasal dari masa Majapahit, seperti di Trowulan.


  • LAMBANG KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT
Lambang keraton Surakarta atau tepat dikenal dengan sebutan Radya Laksana merupakan sebuah logo yang menandakan tentang sebuah identitas berdirinya kerajaan atau keraton Surakarta. Sebuah logo yang begitu unik dan memiliki ciri khas asli kebudayaan Indonesia ini memiliki nilai-nilai essensial tersendiri di dalamnya. Radya Laksana juga memiliki beberapa fungsi sebagai simbol identitas keraton dan juga juga sebagai simbol estetika atau keindahan

Dalam bentuk lencana sering dipasang di baju sebelah kiri, menjadi motif batik khas kerabat keraton, sebagai vandel yang dipasang di rumah atau sebagai relief yang dipasang di gapura karaton. Dalam hal yang demikian Radya Laksana di samping memiliki fungsi sebagai simbol identitas juga sebagai simbol estetika atau keindahan

Awal terbentuk logo Radya Laksana,
bermula dari dipecah belahnya keraton Yogyakarta menjadi dua oleh Belanda. Sampai akhirnya berdiri keraton kesunanan Surakarta (Raja Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I) dan keraton kesultanan Yogyakarta (Raja Sri Sultan Hamengku buwana I). Dari terpecahnya dua keraton tersebut akhirnya Paku Buwana I mendirikan Keraton Kesunanan Surakarta yang nantinya bernama kota Solo.

Konon Raja Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I pun mengagas sebuah ide untuk membuat logo keraton kesunanan Surakarta yang menurut sejarah penuh makna simbolis dan makna filosofis.
.
1. Makna Simbolis Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I mengilhami dirinya dalam makna gambar Paku dan Bumi (Paku Buwana, nama tersebut kemudian dipakai sebagai nama raja-raja yang memerintah Karaton Surakarta dan Sinuhun Paku Buwana I hingga Paku Buwana XII), yang mencerminkan sejarah para raja-raja/penerusnya dalam lingkaran bulat telur. Gambar Surya (matahari) mengisyaratkan nama R.M.G. Sasangka, yang kemudian bernama Panembahan Purbaya. Kemudian gambar bintang, dalam bahasa Jawa disebut Kartika atau Sudama, mengisyaratkan nama R.M.G. Sudama yang kemudian bergelar Pangeran Balitar. Makna historis tersebut selengkapnya dapat diperiksa pada Bagan Silsilah keraton Surakarta.

2. Makna Filosofis
Radya Laksana sendiri juga memiliki makna filosofis yang berupa ajaran tentang kenegaraan dan kehidupan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Makutha (mahkota)
Sebagai simbol raja dan sebagai simbol kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, siapa saja yang memakai atau menerima gambar mahkota selayaknya berjiwa budaya Jawa. Dalam arti bahwa jiwa budaya Jawa memberi tuntunan, budaya sebagai uwoh pangolahing budi secara lahir dan batin berdasarkan budi luhur dan keutamaan. Pakarti lahir harus seiring dengan pakarti batin,” hal yang demikian mencerminkan adanya sifat keharmonisan dalam budaya Jawa.
Warna merah dan kuning
Dalam budaya Jawa merah dan kuning merupakan simbol kasepuhan (yang dianggap tua). Sifat kasepuhan ini terlihat dalam bentuk lahir dan batin, yang mencerminkan sabar, tidak terburu nafsu dan sejenisnya. Hal ini memiliki makna filosofis bahwa seseorag raja harus memiliki jiwa kasepuhan.
Warna biru muda
Dasar warna biru muda dan putih. Warna biru dan putih membawa watak menolak perbuatan yang tidak baik. Warna biru muda merupakan simbol angkasa atau langit, merupakan simbol orang yang berwatak luas pandangannya dan juga pemberi maaf.

Surya (matahari)Surya atau matahari merupakan sumber kekuatan dan sumber penerangan dan hidup, yang akan menjadikan dunia tegak penuh dengan sinar penerang dan hidup. Hal ini merupakan simbol bahwa orang yaang berjiwa budaya harus dapat menanamkan kekuatan dan dapat memancarkan sinar kehidupan dengan tidak mengharapkan imbalan. Surya menjadi sarana kehidupan bumi.
Candra/sasangka (Bulan)
Bulan merupakan sumber penerangan di malam hari tanpa menimbulkan panas, tetapi teduh, memberi cahaya kepada siapapun dan apapun tanpa kecuali. Hal yang demikian memiliki makna bahwa jiwa budaya harus didasari watak pemberi dan memancarkan penerangan yang tidak menyebabkan silau tetapi memancarkan kelembutan dan kedamaian. Candra menjadi sarana daya rasa (batin) bagi kehidupan di bumi.
Kartika (bintang) Kartika atau bintang memiliki sifat memancarkan sinar, hanya kelihatan gemerlap di sela-sela kegelapan malam. Hal ini memiliki ajaran bahwa raja atau seseorang agar dapat memberikan penerangan kepada siapapun yang sedang dalam kegelapan. Makna itu juga mengingatkan kepada kita bahwa masalah gelap dan terang dalam kehidupan ini silih berganti. Kartika menjadi sarana dan daya menambah teduhnya kehidupan di bumi.
Bumi (bumi) Secara lahiriah bumi merupakan tempat kehidupan dan juga tempat berakhirnya kehidupan. Bumi atau jagad melambangkan bahwa manusia (mikrokosmos) yang memiliki jagad besar (makrokosmos). Di sini sebagai kiasan atau “pasemon” adanya kesatuan jagad kecil dan jagad besar. Bumi atau “jagading manungsa” berada dalam hati. Oleh kerena itu manusia agar dapat menguasai keadaan, harus dapat menyatukan diri dengan dunia besar. Dalam Kejawen disebut Manunggaling Kawula-Gusti.” Sifat bumi adalah “momot dan kamet” dapat menampung dan menerima yang gumelar (ada). Bumi sebagai lambang “welas asih,” dapat “anyrambahi sakabehe.”
•Paku
Paku sebagai kiasan atau “pasemon” agar selalu kuat. Hal ini mengandung ajaran bahwa kehidupan di bumi bisa kuat, sentosa harus didasari jiwa yang kuat, tidak mudah goyah, atas dasar satu kekuatan yang maha besar dari Tuhan YME, yang menjadi pegangan bagi manusia yang hidup di bumi
Kapas dan padi
Kapas dan padi melambangkan sandang pangan yakni kebutuhan lahir dalam kehidupan manusia. Sandang di nomor satukan atau didahulukan, sedang pangan dinomor duakan atau dikemudiankan. Hal yang demikian mengandung ajaran bahwa sandang berhubungan dengan kesusilaan dan diutamakan, sedangkan pangan berhubungan dengan lahiriah dinomor duakan. Oleh karena itu manusia hendaknya mengutamakan kesusilaan daripada masalah pangan. Kehidupan manusia di bumi tidak dapat lepas dari kebutuhan-kebutuhan duniawi.
Pita merah putih
Pita merah putih sebagai kiasan bahwa manusia terjadi dengan perantara ibu-bapak (ibu bumi bapa kuasa). Merah melambangkan ibu, sedangkan putih melambangkan bapak. Oleh karena itu, manusia hendaknya selalau ingat kepada ibu-bapak, yang tercermin dalam ungkapan : “mikul dhuwur mendhem jero” maksudnya sebagai anak harus dapat mengharumkan nama orangtua dan dapat menghapuskan kejelekan nama orang tua. Juga dapat diartikan laki-laki dan perempuan sebagai lambang persatuan. Untuk mencapai tujuan harus dilandasi semangat persatuan (antara Gusti dan Kawula).

Inti kebudayaan Karaton Surakarta yang dicetus Paku Buwana I berupa gagasan,
Hasil olah (kerja) pikir dan batin manusia berupa perilaku hidup menyembah kepada tuhan YME dan perilaku hidup sosial budaya (hubungan dengan sesama). Nilai yang terkandung di dalamnya diwariskan pelestariannya dari generasi ke generasi, melalui proses seleksi nilai tersebut menurut lintasan perjalanan sejarah.
Menurut Paku Buwana I, Sri Radya Laksana adalah wujud dan gambaran inti kebudayaan Karaton Surakarta. Arti harafiahnya adalah perilaku lahir dan batin untuk menjunjung tinggi negara. Unsurnya terdiri dari ratu (raja), putra sentana, abdi dalem (punggawa), kawula (rakyat) fisik bangunan karaton, pemerintahan, wilayah dan kelompok tetua (pendahulu) yang dihormati.


Menurut abdi dalem keraton Istilah Radya Laksana yang dititiskan Paku Buwana I terdiri atas dua kata yaitu Radya dan Laksana. Kedua kata itu di dalam Baoesastra Djawa (1939, hal:515 dan 257) dijelaskan sebagai berikut:
a. Radya (S) KW : Kradjan
b. Laksana I (S) KW : Tjiri, tenger, pratanda, ngalamat.
II KW Kabegjan /lakoe

Terjemahan :
a. Radya (Sansekerta) Kawi : Kerajaan
b. Laksana I (Sansekerta) : 1. Ciri, tanda, pertanda 1. Keberuntungan
Sehubungan dengan makna kedua kata tersebut, maka secara harafiah Radya Laksana berarti : ciri kerajaan, tanda kerajaan, atau jalan kerajaan.
Radya Laksana sebagai lambang Karaton Surakarta, kata Radya dapat berarti negara dalam pengertian Karaton Surakarta, sedangkan Laksana tetap berarti jalan. Oleh karena itu, Radya Laksana dapat diartikan Jalan Negara dalam arti konsep-konsep untuk menjalankan negara yaitu Karaton Surakarta Hadiningrat.

Selain secara harafiah, Radya Laksana memiliki makna sebagai ajaran dan patokan bagi siapapun yang memiliki watak Jiwa Ratu, Jiwa Santana, Jiwa Abdidalem, dan Kawuladalem yang berkiblat ke Karaton yang berdasarkan pada Jiwa Budaya Jawa.

Radya adalah negara.
Yang disebut negara adalah bersatunya Ratu, putra Santana, Abdi dalem, kawula bangunan karaton, pemerintahan, daerah dan “Pepundhen” (segala sesuatu yang dihormati.

Adapun Laksana berarti tindakan.
Tindakan yang didasarkan pada Lahir dan Batin. Tindakan dalam bentuk batiniah harus dapat tercermin dalam wujud tindakan lahiriah.



  • TRAH BANDARA PANGERAN HARYA SURONEGORO -                             MATARAM KARTOSURO
Lambang dari Trah Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yaitu dari para sentana (putera) dan senopati (perwira) Keraton Surakarta. Simbol ini terpapar di pntu gerbang dalam keraton, dan ada dalam ukuran kecil dengan bentuk yang sama terpampang pada setiap pintu gerbang rumah para Pangeran keluarga keraton didalam area keraton Surakarta. BPH Suronegoro adalah Raden Manyuro putera mantu dari PB I (Pangeran Puger), mempersunting Bandoro Raden Ayu Manis, puteri yang dilahirkan (mijil) dari Mas Ayu Tjondrowati berasal dari Jurug ( sekarang Kentingan / Kampus UNS Surakarta).
Bandoro Pangeran Haryo Suronegoro masih keturunan Sultan Trenggono di Demak Bintoro., bin Raden Patah,





  • LAMBANG PURO MANGKUNEGARA - SURAKARTA

Praja atau Kadipaten Mangkunagaran (atau Mangkunegaran) adalah Kadipaten yang pernah berkuasa di wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya sejak 1757 sampai dengan 1946. Penguasanya adalah cabang dari wangsa Mataram, disebut wangsa Mangkunegaran, yang dimulai dari Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said).
Praja atau Kadipaten Mangkunagaran (atau Mangkunegaran) adalah
Kadipaten yang pernah berkuasa di wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya sejak 1757 sampai dengan 1946. Penguasanya adalah cabang dari wangsa Mataram, disebut wangsa Mangkunegaran, yang dimulai dari Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said).




  • LAMBANG TRAH NITIADININGRAT - PASURUAN
Lambang Trah Keturunan Kyai Adipati Nitiadiningrat I, Bupati Pasuruan Th1751-1799; Lahir 1740, dari pernikahan Paku Buwana II Kartosuro - Mataram dengan Raden Ayu Brie Budjang, binti Pangeran Kertokusumo / Pangeran Bodrokusumo di Drajat-Sidayu Lawas; Ini adalah masih keturunan ketujuh (gantung siwur) Raden Rahmat / Sunan Ampel. Dalam riwayat R Ayu Briebujang sebagai isteri Pangrembe diparingaken/dihadiahkan kepada Kyai Tumenggung Wongsonegoro Bupati VOC di Pasuruan, saat itu dalam keadaan mengandung. Dengan syarat boleh dikawin setelah bayi itu lahir; dan bila bayi lahir laki-laki akan menggantikan menjadi Bupati pasuruan. Maka Lahirlah raden Groedo / R Bagus Ingabei Soemodrono / Kyai adipati Nitiadiningrat I, Bupati Pasuruan  tsb. Dan Lambang Pemrintahan saat itu (seperti namapak pada gambar ) berupa burung garuda, bola dunia, dan paku seperti makna lambang Kasunanan Surakarta adalah :
Bumi (bumi) Secara lahiriah bumi merupakan tempat kehidupan dan juga tempat berakhirnya kehidupan. Bumi atau jagad melambangkan bahwa manusia (mikrokosmos) yang memiliki jagad besar (makrokosmos). Di sini sebagai kiasan atau “pasemon” adanya kesatuan jagad kecil dan jagad besar. Bumi atau “jagading manungsa” berada dalam hati. Oleh kerena itu manusia agar dapat menguasai keadaan, harus dapat menyatukan diri dengan dunia besar. Dalam Kejawen disebut Manunggaling Kawula-Gusti.” Sifat bumi adalah “momot dan kamet” dapat menampung dan menerima yang gumelar (ada). Bumi sebagai lambang “welas asih,” dapat “anyrambahi sakabehe.”
•Paku
Paku sebagai kiasan atau “pasemon” agar selalu kuat. Hal ini mengandung ajaran bahwa kehidupan di bumi bisa kuat, sentosa harus didasari jiwa yang kuat, tidak mudah goyah, atas dasar satu kekuatan yang maha besar dari Tuhan YME, yang menjadi pegangan bagi manusia yang hidup di bumi



  • LAMBANG TRAH KROMODJAYAN-KANOMAN, SUROBOYO - MOJOKERTO
Lambang Trah Kromodjayan (Majapahit) adalah lambang yang dipergunakan oleh keluarga sedarah keturunan Raden Joko Ismail atau Kyai Mas Tumenggung  Kanoman Kromowijoyo keturnan dari Trah Dermoyudo; R Joko Ismail menjabat Patih Kanoman di Surabaya.
Menurunkan R Bagus Glundung / R Tumenggung Kromodjoyodirono (Bupati Surabaya 1819-1825), menurunkan Raden Bagus Anom, R Ngabei Kromodjoyo Adinegara II dikenal Kanjeng Kyai Genteng ( Bupati Surabaya 1831-1859), menurunkan R.Aersadan / R.Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro III (Bupati Mojokerto 1866-1894), menurunkan R.Mashudan / Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adineoro IV (Bupati Mojokerto 1894-1916), menurunkan R. Bagus Abdul Madjid / R Adipati Kromoadinegoro (Bupati Mojokerto1916-1930), dst. 
Identitas paguyuban Trah Kromodjayan mangandung makna sebagai berikut :
                                                     1. Piandel sebagai simbol dengan bentuk cerminan dari :
    * Andalan ilmu pengetahuan berupa "amalan" yaitu mempunyai arti sebagai perbuatan (baik) yang ada pahalanya;  Melakukan bacaan yg harus dikerjakan dl rangkaian ibadah, ( leluhur kesemuanya beragama ISLAM); Yang tujuan keselamatan dunia dan akhirat; Disamping adanya proyeksi sebagai ilmu memberikan perisai diri ( ilmu kanuragan / kedigdayan);  Yang kesemuanya dipergunakan melengkapi sesorang dalam urusan duniawi, baik yang  nampak maupun yang tidak nampak. Dari sinilah inspirasi bentuk simbol Trah Paguyuban di wujutkan.
* Andalan senjata dalam bentuk hewan peliharaan / kelangenan (satwa) dalam artian secara  metafisis, ini digambarkan pada satwa harimau; Diambil dari riwayat pesarean Sentono Asri bahwa nisan sebelah kanan Eyang R Aersadan adalah makam berbagai pusaka diantaranya berbentuk harimau.
    * Bentuk songsong / payung sebagai simbol dan senjata, yaitu Payung  memaknai lambang pengayoman sebagai pemegang kuasa kepada rakyatnya: ataupun simbol kehormatan yang pernah dimliki leluhur dari Pemerintah Hindia Belanda, yaitu hadiah kepada Regent yang telah dapat membuat kemakmuran dan ketentraman daerahnya mendapat simbol kehormatan berupa "payung kuning"; Konon payung tsb. menjadi barang piandel / pusaka untuk membentengi diri dari serangan lawan.

2. Karya dan jasa beliau para leluhur Kromodjayan dalam melestarikan benda kepurbakalaan, tersirat dalam riawayat museum Trowulan, adalah sebagai pendahulu pendiri museum tsb; Dan disamping leluhur sudah banyak jasanya kepada masyarat Mojokerto dalam pembangunan dam pintu air ("rolak songo"untuk kesejaheraan masyarakat desa dan kota. Dan memperjuangkan syiar agama islam dengan mendiikan bangunan tempat ibadah ( masjid) dimana leluhur pernah berpijak. 


  • LAMBANG TRAH BRATADININGRAT - BANYUMAS

Lambang Trah Bratadiningrat, berupa silsilah dalam tulisan dengan bentuk ornamen bulat dari tengah sebagai Pancer ada adalah Trah Yudonegaran Banyumas; Dalam sejarah / babat Banyumas tidak ditemukan simbol kebesar dari Adipati yang menjabat, atau kemungkinan ada namun sudah tidak terlacak kembali. sehingga kami sebagai penulis Silslah Trah Bratadinngrat berinspirasi bahwa ada satu satunya warisan pusaka dalam bentuk silsilah tsb. lah yang patut dapat dijadikan tetenger Trah. Tuslisan tangan Ini adalah warisan dari Eyang Buyut Raden Ngabei Djoyosoebroto (Colleteur Krian Sidoarjo), bin R Tumenggung Djayadiredja (Bupati Purwokerto), bin R Ngabei Kertadiredja ( Wedana Race-/Sukaraja), bin R. Adipati Bratadiningrat / R.Adipati Mertadiredja I (Bupati Kanoman Banyumas Th.1816-1830); Dalam riwayat Traha adalah sebagai berikut :
Trah Yudanegaran di Banyumas bercabang trah Mertadiredjan di Banyumas dan trah Danurejan di Yogyakarta. Selanjutnya, trah Mertadiredjan mempunyai ranting trah Gandasubratan dan trah Mardjana. Trah Mertadiredjan tidak dapat dilepaskan hubunqannya dengan trah-trah lain yang berada, baik di Banyumas (trah Pasir dan trah Yudanegaran), Banjarnegara (trah Dipayudan), maupun Kebumen (trah Wangsanegaran. trah Kolopaking. dan trah Kartanagaran).
Raden Adipati Mertadiredja I atau Raden Adipati Bratadiningrat (Wedana Bupati Kanoman Banyumas, 1816-1830) mempunyai 12 orang anak, yaitu (1) Mas Ajeng Tirtasura, (2) Raden Ngabehi Kertadiredja, Wedana Race (Sokaraja). Kertadiredja selanjutnya mempunyai anak Raden Tumenggung Djaja-diredja (menarrtu K.P.A.A. Mertadiredja II, bupati Purwokerto 1853-1860) dan Raden Ayu Adipati Dipadiningrat (istri Bupati).


  • LAMBANG TRAH PANGERAN LANANG DANGIRAN - BOTO PUTIH SURABAYA
Lambang Trah / keturunan Pangeran Lanang Dangiran / Kyai Brondong  di Surabaya ini diambil dari buku Silsilah yang ditulis oleh R. Panji Arya Makmoer; Dari warisan sejarah kehidupan Buyut Brondong yang sebagai Kyai Ageng di Botoputih dibawah pemerintahan Pangeran Pekik, dalam masa ampel Dento ( Ampel Jaya) yang mengabdkan hidupunya untuk syiar Agama Islam. Makna simbol tidak dijelaskan dalam riwayat oleh penulis.     Namun secara jelas pada waktu itu keturunan dari Eyang Brondong banyak melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda, antara lain cucu-cucu beliau : Sawunggaling, Djangrono, R Ayu Kartini (pejuang Indonesia). Sehingga bentuk mahkota sebagai simbol Kehormatan Bangsa / Pribumi saat itu sebagai penguasa, dan senjata pusaka sebagai piandel dalam mempertahankan jati diri para satriya / pejuang.

  • LAMBANG TRAH PUSPOBEGORO - GRESIK

Dalam tahun 1932 M, Trah/Keturunan Kyai Tumenggung Pusponegoro I, Bupati Gresik telah mengawali menulis riwayat / sejarah leluhurnya, dan hingga saat ini telah terbentuk Paguyuban Keluarga, yang diberi nama Pusara Warga Gresik Keturunan Kyai Tumenggung Pusponegoro I  ( disingkat : Paguyuban PWGTP   )  dalam wadah keluarga inilah sebagai wujud keteguhan hati dalam membentuk kerukunan keturunan Kyai Tumenggung Poesponegoro, serta sebagai upaya menelusuri riwayat ataupun mengenang budi, dan kewibawaan leluhur.

Kyai Tumenggung Pusponegoro I mejabat Bupati pertama di Gresik pada tahun 1669-1732. dan wafat dimakamkan di komplek ma kam Pusponegoro memang sengaja dibuat komplek makam yang disebut makam Gapuro Sukolilo, untuk para leluhur. komplek Makam Gapuro Sukolilo juga terdapat makam antara lain Tumenggung Ario Negoro. Makam ini sebenarnya disebut komplek makam Asmarataka, tetapi sekarang lebih lazim disebut komplek makam Pusponegoro.
Kedudukan Bupati Gresik selanjutnya dipegang oleh Kyai Puspodiwangsa pada tahun 1688, dengan nama gelar Kyai Tumenggung Pusponegoro, berdasarkan surat keputusan dari Kanjeng Gouverment Belanda. Kyai Tumenggung Pusponegoro

Selanjutnya Kyai Tumenggung Pusponegoro , digantikan oleh putra tertua yaitu Kyai Ngabei Djayanegara, pada tahun 1696 dengan nama gelar Kyai Tumenggung Djayoyonegoro. http://id.rodovid.org/wk/Orang:188867; Beliau memliki 11 putra dari :
  • Pernikahan dengan Nyai Ayu Sutodrono (=garwo padmi), menurunkan: 1. Nyai Ajeng Adiretno; 2. Kyai Suronegoro; 3. Nyai Ajeng Puspodirdjo.
  • Dari garwo panumping mBok Ayu Tjempo,asal Giri, menurunkan: 4. Nyai Ajeng Mertodirono; 5. Kyai Ngabei Astrodirdjo; 6. Nyai Ajeng Windunegoro 7. Nyai Ajeng Madunten.
  • Dari garwo panumping yang lain, menurunkan: 8. Kyai Ngabei Djoyodirona; 9. Nyai Ajeng Sutanegoro; 10. Kyai Ngabei Djoyobroto; 11. Kyai Ngabei Djoyoredjo.

  • LAMBANG TRAH SUDORO SURO ADI KUSUMO, - PEMALANG
Lambang Paguyuban SAK (Sudoro Suro Adi Kusumo) adalah dari keluarga sedarah yang bermukim di Kabupaten Pemalang . Menelusuri dari pesarean Agung Soeronatan Kauman Pemalang kita mulai dapat memahami Trah SAK, dimana pesarean tersebut bersemayam sepuluh mantan Bupati Pemalang dan dua ulama besar.  Di Pesarean Agung itu terdapat sepuluh makam mantan Bupati Pemalang, yang memimpin sejak tahun 1618 hingga 1934.
Mereka adalah Kanjeng Tumenggung Surengrono (1618-640), Raden Suro Manggolo (1668-1678), Kanjeng Tumenggung Sumanegara (1829- 1858), Kanjeng Raden Tumenggung Notonegoro (1858- 1859), Kanjeng Tumenggung Suro Adi Negara (1859-1862) Kanjeng Tumenggung Suro Adi Kusumo (1862-1879), Kanjeng Raden Tumenggung Reksonegoro (1879-1897), Kanjeng Adipati Suroningrat (1897-1906), Kanjeng Adipati Ario Sudoro Suro Adi Kusumo (1918-1928), Raden Tumenggung Raharjo Suro Adi Kusumo (1934-1941).
Oleh para trah keturunan  K.A.A. Sudoro Suro Adi Kusumo di dirikan suatu perkumpulan / paguyuban dan ditulislah riwayat eturunan dalam bentuk diagram pohon keluarga sbb :


Tulisan SAK pada silsilah sekiranya dibuat putra wayah Raden Tumenggung Raharjo Suro Adi Kusumo, dan  pada saat ini yang dikenal dengan nama Paguyuban Keluarga Besar Sudoro Suro Adi Kusumo ( PKB-SSAK) berpusat di Jakarta. Nama paguyuban mengacu pada nama leluluhur Kanjeng Adipati Ario Sudoro Suro Adi Kusumo (1918-1928), 

  • LAMBANG TRAH ADIE PRAWIRO ADIE NINGRAT - BESUKI
     
    Lambang Keluarga Besar Pangeran Adipati Arya Prawiro Adie Ningrata I adalah trah keturunan dalam keluarga sedarah yang bermukim di Kabupaten Besuki Jawa Timur. 
    Beliau adalah putera dari Raden Tumenggung Kolonel di Sumenep, menikah dengan puteri Han Soe Kie di besuki; adalah putera dari Raden Asirudin, jumeneng nama gelar Panembahan Semolo / Panembahan Kusumo menikah dengan putri asal Sedayu (adalah diantara 7 isteri  Raden Asirudin ); R.Asirudin adalah putera dari Bindoro Moh. Saud, jumeeng Bupati nama gelar Raden Tumenggung Tirtonegoro, Bupati Sumenep 1751-1762.
    Pangeran Adipati Arya prawiro adie Ningrat I atau disebut juga Pangeran Bambang Soetikno, menurunkan 16(enam belas) putera puteri dari banyak isteri, pernikahan isteri dengan pribumi, China, Belanda, dan masih banyak yang tidak tercatat. Putera  pertama dari 16 adalah  Pangeran Adipati Arya prawiro adie Ningrat II atau disebut juga Pangeran Koso, menurunkan 6 putera dan yang terakhir adalah Raden Arya Tumenggung Soerengrono, menurunkan 11 putera, dan putera ke 4 adalah Raden Arya Koesoemowitjitro, menjabat Patih Situbondo, menurunkan Raden Ayu Djamaliah menikah dengan Raden Arya Soedono Nataningrat (Kajari Sidoarjo); menurunkan R Ayu Fien Sudarlyah (sidoarjo); Beliau inilah yang memegang Silsilah leluhur Besuki dan Pasuruan. 
    Lambang Kuda dengan sayap (kuda terbang) sebagai icon turun temurun dari Sumenep, sampai ke simbol keluarga di Besuki dengan dua pasang kuda dan payung pangyoman; Kuda terbang dalam artian riwayat ditinjau dari Era Kerajaan Singhasari, daerah Sumenep dipimpin oleh seorang Adipati yang juga menjadi dalang pembangunan Kerajaan Majapahit, yaitu Arya Wiraraja. Dituliskan dalam berbagai kitab dan prasasti, salah satunya dalam kitab pararaton, bahwa Arya Wiraraja tidak dipercaya lagi oleh Raja Wisnuwardhana dan dinohaken (dijauhkan) ke Sumenep, Madura timur tepat pada tanggal 31 Oktober 1269 Masehi.
    “Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungennep, anger ing madura wetan”. Yang artinya : Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Letak yang jauh diibaratkan perjalanan menuju Sumenep memakan waktu lama, maka dengan Kuda terbang menjadi tidak jauh/lama, dengan kota kerajaan Mojopahit.
LAMBANG TRAH REGENT VAN SAMPANG MADURA

Pemerintahan Sampang - Madura semenjak Th 1478M sampai sekarang,
Pemimpin dikala itu disebut Kamituwo, berpusat di  Madegan – Sampang bernama Raden Ario Lembu Petteng (1478) Raden Ario Menger Raden Ario Pratikel Raden Ario Pojok Penguasa Sampang (status sama dengan kerajaan kecil) : Adipati Pramono ……. – …….. Adipati Bonorogo ….. – 1530 Pangeran Sidhing Gili 1531 – 1592 Adipati Pamedakan 1592 – 1623 Adipati Merto Sari 1623 – 1624 Kerajaan Madura : Pangeran Cakraningrat I ( Raden Praseno, 1624 – 1648) Pangeran Cakraningrat II ( Raden Undakan 1648 – 1680), menjadi Raja Madura bagian barat berkeraton di Tonjung Kabupaten Bangkalan Pasca Kerajaan Madura (Penguasa Sampang) : Raden Ario Purbonegoro ( 1680 ) Raden Ario Purwonegoro Ganta’ Raden Ario Purbonegoro ( Raden Demang Panjang Suro ) Raden Tumenggung Purbonegoro / Minggu ( Gung Purbo ) Raden Ario Mloyo Kusumo ( Penguasa terakhir, berdiri sendiri) Zaman Penjajahan Belanda ( terhitung sejak 1 November 1885 ) : Bupati Pertama ( Tumenggung Ario Kusumoadiningrat 1884 – ……. ) Bupati Kedua ( Tumenggung Ario Condrokusumo …… – …… ) Bupati Ketiga ( Adipati Secoadiningrat ……. – 1913 ) Bupati Keempat ( Tumenggung Ario Suryowinoto 1913 – 1918 ) Bupati Kelima ( Tumenggung Ario Kertoamiprojo 1918 – 1923 ) Bupati Keenam ( Tumenggung Ario Sosrowinoto 1923 – 1931 ) Sampang berstatus kawedanan (1931 – 1942) Zaman Pendudukan Militer Jepang : Sampang dalam pendudukan jepang berstatus kawedanan (1942 – 1945) Wedana Raden Abdul Gafur Masa Kemerdekaan R.I 17 Agustus 1945 : Sampang berstatus kawedanan Wedana Raden Abdul Gafur Negara Madura (20 Februari 1948 – 4 Maret 1950) Sampang berstatus Kabupaten Bupati Raden Panji Muhammad Saleh Kusumowinoto (1948 – 1950) Kembali ke Pemerintahan R.I Madura bergabung dengan Negara Kesatuan R.I tanggal 9 Maret 1950 Sampang Berstatus Kabupaten : Bupati Pertama (RT. Moh. Iksan 1950 – 1952) Bupati Kedua ( R. Suharjo 1953 – 1956) Bupati Ketiga ( K.H. Achmad Zaini 1957 – 1959) Bupati Keempat (M. Walihadi 1960 – 1965) Bupati Kelima ( Faudzan Hafidz Suroso, B.A 1966 – 1971) Bupati Keenam (Jusuf Oenik 1971 – 1978) Bupati Ketujuh (Mursim 1978 – 1985) Bupati Kedelapan (Makbul 1985 – 1990) Bupati Kesembilan(R. Bagus Hinayana 1990 – 1995) Bupati Kesepuluh (Fadhilah Budiono, periode pertama 1995 – 2000) (periode kedua 2001 – 2006) Bupati Kesebelas (Noer Tjahja 2008 – sekarang)

 LAMBANG TRAH REGENT VAN BANGKALAN - MADURA

Sejak zaman kerajaan dahulu, banyak raja yang memerintah di Kabupaten Bangkalan mulai dari Panembahan Lemah Duwur hingga Panembahan Cakraadiningrat VIII dan dibawah ini merupakan daftar nama Raja dan Bupati yang pernah berkuasa di Bangkalan.

Makam para raja Bangkalan terpusat di Pemakaman Aer Mata dan ada juga yang berada di depan masjid Agung Bangkalan yakni Pangeran Sidingkap (Cakraningrat IV) beserta istri, anak dan para pengawalnya. disitu pula terdapat gambar silsilah kerajaan bangkalan.



NAMA RAJA YANG MEMERINTAH DI KABUPATEN BANGKALAN    
Tahun 1531 – 1592 : Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)
Tahun 1592 – 1621 : Raden Koro (Pangeran Tengah)
Tahun 1621 – 1624 : Pangeran Mas
Tahun 1624 – 1648 : Raden Prasmo (Pangeran Cakraningrat I)
Tahun 1648 – 1707 : Raden Undakan (Pangeran Cakraningrat II)
Tahun 1707 – 1718 : R.T. Suroadiningrat (Pangeran Cakraningrat III)
Tahun 1718 – 1745 : Pangeran Sidingkap (Pangeran Caraningrat IV)
Tahun 1745 – 1770 : Pangeran Sidomukti (Pangeran Cakraningrat V)
Tahun 1770 – 1780 : R.T. Mangkudiningrat (Penembahan Adipati Cakraadiningrat VI)
Tahun 1780 – 1815 : Sultan Abdu / Sultan Bangkalan I (Penembahan Adipati Cakraadiningrat VII) 
Tahun 1815 – 1847 : Sultan Abdul Kadirun (Sultan Bangkalan II)
Tahun 1847 – 1862 : R. Yusuf (Panembahan Cakraadiningrat VII)
Tahun 1862 – 1882 : R. Ismael (Panembahan Cakrasdiningrat VIII)

NAMA BUPATI YANG MEMERINTAH DI KABUPATEN BANGKALAN
 Tahun 1882 – 1905 : Pangeran Suryonegoro (Bupati I)
Tahun 1905 – 1918 : R. AA Suryonegoro (Bupati II) 
Tahun 1918 – 1945 : R. AA Suryowinoto / Wali Negara (Bupati III)
Tahun 1945 – 1956 : Mr. R.A. Moh. Zis Cakraningrat (Bupati IV)
Tahun 1956 – 1957 : R.A. Moh. Roeslan Wongsokusumo (Bupati V)
Tahun 1957 – 1959 : R.A. Abd. Karim Brodjokusumo (Bupati VI)
Tahun 1957 – 1959 : R.A. Abd. Karim Brodjokusumo (Bupati VI) 
Tahun 1959 – 1965 : R.P. Moh. Noer (Bupati VII)
Tahun 1965 – 1969 : Drs. Abd. Manan Priyonoto (Bupati VIII)
Tahun 1969 – 1971 : R.P. Machmud Suroadiputro (Bupati IX)
Tahun 1971 – 1982 : HJ. Sudjaki (Bupati X) 
Tahun 1982 – 1988 : Drs. Sumarwoto (Bupati XI)
Tahun 1988 – 1991 : Drs. Abdul Kadir (Bupati XII)
Tahun 1991 – 1993 : Drs. Ernomo (PTHJ Bupati)
Tahun 1993 – 1998 : M. Djakfar Syafei (Bupati XIII) 
Tahun 1998 – 2003 : Dr. Ir. H. Mohammad Fatah, MM
Tahun 2003 – 2013 : R.K.H. Fuad Amin, SPd



Simbol yang digunakan oleh HR Widodo AS, dalam menghimpun pohon keluarga (Silsilah / Serat Sara Silah) yang dikerjakannya.


Nama: HR Widodo AS,